.:: HaditsWeb7.0 ::.


 

Bab 168. Adab-adab Kesopanan Perjalanan, Turun, Menginap Dan Tidur Dalam Berpergian, Juga Sunnahnya Berjalan Malam, Belas Kasihan Pada Binatang-binatang, Menjaga Kemaslahatan-kemaslahatan Binatang-binatang Tadi Serta Menyuruh Orang Yang Teledor Memberikan Hak Binatang-binatang Tadi Supaya Memberikan Haknya Dan Bolehnya Naik Di Belakang Dan Di Depan Punggung Binatang Kendaraan, Jikalau Binatang itu Kuat Dinaiki Sampai Dua Orang

 

 

959. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau engkau semua berpergian melalui tempat yang subur, maka berikanlah pada unta itu akan haknya dari bumi -yakni berikanlah ia kesempatan makan secukupnya-. Tetapi jikalau engkau semua berpergian melalui tempat yang tandus, maka percepatkanlah binatang-binatang itu untuk segera dapat sampai di tempat tujuannya sebelum kehabisan sumsumnya -yakni sebelum kehabisan tenaga karena sukarnya perjalanan-. Jikalau engkau semua bermalam di jalanan, maka jauhilah menempati tempat lalu lintas, sebab tempat-tempat itu memang untuk jalannya segala macam binatang dan juga tempat tinggalnya binatang-binatang yang merayap di waktu malam." (Riwayat Muslim) Makna A'thul ibila hazhzhaha minal ardhi ialah belas kasihani unta itu dalam perjalanannya supaya dapat pula sambil makan-makan di kala melakukan perjalanannya. Sabdanya niqyaha, dengan kasrahnya nun dan sukunnya qaf dan dengan ya' mutsannat di bawah -titik dua di bawah- artinya ialah sumsum. Adapun maksudnya ialah: "Percepatkanlah berjalan dengan binatang itu sehingga segera sampai di tempat yang dituju sebelum lenyap sumsumnya -yakni sebelum kehabisan tenaga- karena sukarnya perjalanan yang ditempuh. Adapun Atta'ris artinya ialah turun menginap di waktu malam.

 

960. Dari Abu Qatadah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. itu apabila berpergian lalu menginap di waktu malam, beliau s.a.w. berbaring pada sebelah kanan tubuhnya dan jikalau tidur sebelum hampir waktu subuh, maka beliau s.a.w. menegakkan lengan tangan dan meletakkan kepalanya di atas tapak tangannya itu." (Riwayat Muslim) Para alim ulama berkata: "Sesungguhnya beliau s.a.w. itu menegakkan lengan tangannya tadi agar supaya tidak tenggelam dalam tidurnya -yakni terlampau nyenyak- sehingga akan terlambat bangun untuk shalat subuh melewati waktunya atau melewati permulaan waktunya."

 

961. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hendaklah engkau semua berpergian di waktu malam, sebab sesungguhnya bumi itu dilipat di waktu malam itu." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan. Adduljah ialah berjalan di waktu malam.

 

962. Dari Abu Tsa'labah r.a., katanya: "Orang-orang itu apabila turun di suatu tempat berhenti, mereka suka berpisah-pisah di lereng-lereng dan lembah-lembah. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya berpisah-pisahmu di lereng-lereng dan lembah-lembah ini, sesungguhnya itu adalah dari cara yang dilakukan syaitan. Maka tidak lagi sesudah itu mereka turun berhenti di sesuatu tempat melainkan yang sebagian berkumpul dengan sebagian yang lain. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

 

963. Dari Sahl bin 'Amr, ada yang mengatakan Sahl bin ar-Rabi' 'Amral-Anshari yang terkenal dengan nama Ibnul Hanzaliyah. Ia adalah golongan orang-orang yang ikut menyertai Bai'atur Ridhwan r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. berjalan melalui seekor unta yang punggungnya telah menempel dengan perutnya -yakni sudah lelah dan tampak lapar serta kurus sekali-, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Takutlah engkau semua kepada Allah dalam memelihara binatang-binatang yang bisu ini. Naikilah ia dengan baik-baik dan beri makanlah ia dengan baik-baik pula." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

 

964. Dari Abu Ja'far yaitu Abdullah bin Ja'far radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya dinaikkan oleh Rasulullah s.a.w. di belakangnya -di atas punggung seekor binatang kendaraan- pada suatu hari dan beliau memberitahukan sesuatu pembicaraan kepada saya secara rahasia yang tidak akan saya beritahukan kepada siapapun juga diantara seluruh manusia ini. Sesuatu yang paling disenangi oleh Rasulullah s.a.w. untuk dijadikan sebagai tabirnya di waktu membuang hajatnya ialah sesuatu yang tinggi -tanah ataupun pasir- juga kumpulan pohon kurma yang rimbun. Jadi semacam dinding yang terdiri dari pohon-pohon kurma." Diriwayatkan oleh Imam Muslim demikian ini secara ikhtisar. Al-Barqani menambahkan di situ, dengan isnad Imam Muslim sebagaimana yang di belakang ini sesudah ucapannya kumpulan pohon-pohon kurma: "Lalu beliau s.a.w. memasuki dinding milik seorang lelaki dari golongan sahabat Anshar, tiba-tiba di situ ada seekor unta. Setelah Rasulullah s.a.w, melihatnya, maka unta itupun meringik -atau merintih- dan kedua matanya melelehkan airmata. Ia lalu didatangi oleh Nabi s.a.w. kemudian diusaplah puncak punggungnya -yakni punuknya- dan pula tengkuknya -yang dekat telinganya-, selanjutnya unta itupun berdiamlah. Setelah itu beliau s.a.w. bertanya: "Siapakah yang memiliki unta ini? Siapakah yang mempunyai unta ini?" Lalu datanglah seorang pemuda dari golongan sahabat Anshar dan ia berkata: "Ini adalah kepunyaan saya, ya Rasulullah." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Tidakkah engkau takut kepada Allah dalam memelihara binatang ini yang telah diserahkan oleh Allah untuk menjadi milikmu. Unta itu mengadu kepada saya bahwa engkau membiarkannya ia lapar dan membuat ia amat lelah." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud sebagaimana riwayatnya al-Barqani. Ucapannya: dzifrahu, dengan kasrahnya dzal mu'jamah dan Sukunnya fa', ini adalah lafaz mufrad muannats. Ahlul lughah berkata: Adzdzifra ialah tempat yang berpeluh dari unta yang terletak di belakang telinga. Adapun tud-ibuhu artinya ialah engkau membuatnya sangat lelah.

 

965. Dari Anas r.a., katanya: "Kita semua apabila turun di suatu tempat pemberhentian, maka kita tidak akan bertasbih dulu -maksudnya tidak melakukan shalat sunnah dulu- sehingga kita lepaskan beban-beban itu -dari punggung unta-." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad menurut syaratnya Imam Muslim. Ucapannya: Ia nusabbihu artinya ialah kita tidak shalat sunnah dulu, sedang maksudnya ialah bahwa sekalipun kita gemar sekali melakukan shalat, namun demikian kita tidak akan mendahulukan melakukannya sebelum menurunkan beban-beban itu dari punggung binatang serta meng-istirahatkannya.


Sumber:


Home | TrendMuslim.com