.:: HaditsWeb7.0 ::.


 

Bab 152. Apa Yang Diucapkan Di Sisi Mayit Dan Apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Ditinggalkan Oleh Mayit

 

 

917. Dari Ummu Salamah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau engkau semua mendatangi orang sakit atau orang mati, maka ucapkanlah yang baik-baik saja, sebab sesungguhnya malaikat itu mengucapkan Amin kepada apa-apa yang engkau semua ucapkan." Ummu Salamah berkata: "Ketika Abu Salamah meninggal dunia, saya lalu mendatangi Nabi s.a.w. kemudian saya mengatakan: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Abu Salamah telah meninggal dunia." Beliau s.a.w. bersabda: "Katakanlah -yang artinya-: "Ampunkanlah untukku dan untuknya dan berikanlah untukku ganti yang baik daripadanya." Lalu saya berkata: "Maka Allah memberikan ganti untukku seorang yang lebih baik bagiku daripada Abu Salamah itu, yakni Muhammad s.a.w. -karena setelah suaminya yakni Abu Salamah meninggal dunia-, lalu Ummu Salamah itu dikawin oleh Nabi s.a.w." Imam Muslim meriwayatkan demikian, yakni: "Jikalau engkau semua mendatangi orang sakit atau orang mati," dengan ada keragu-raguan dalam kata-kata orang sakit atau mati. Adapun yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan lain-lain, jelas diucapkan: "orang mati," tanpa diragu-ragukan.

 

918. Dari Ummu Salamah radhiallahu 'anha pula, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada seorang hambapun yang terkena oleh sesuatu musibah -yakni bencana-, lalu ia mengucapkan -yang artinya-: "Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah dan sesungguhnya kita pasti akan kembali padaNya. Ya Allah, berikanlah kepada saya akan pahala dengan sebab adanya musibah saya ini, juga berikanlah ganti untuk saya sesuatu yang lebih baik daripada yang sudah hilang", melainkan Allah Ta'ala akan memberinya pahala karena adanya musibah dalam dirinya itu dan akan memberikan ganti padanya yang lebih baik daripada yang sudah meninggal tadi." Ummu Salamah berkata: "Ketika Abu Salamah meninggal dunia saya lalu mengucapkan sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. padaku, kemudian Allah memberikan ganti untuknya seorang yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah s.a.w." (Riwayat Muslim)

 

919. Dari Abu Musa r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau anak dari seorang hamba meninggal dunia, maka Allah Ta'ala berfirman kepada para malaikatnya: "Adakah engkau semua telah mencabut nyawa anak dari hambaKu?" Mereka menjawab: "Ya." Allah berfirman lagi: "Adakah engkau semua telah mencabut nyawa buah hati dari hambaKu itu?" Mereka menjawab: "Ya." Allah berfirman pula: "Kemudian apakah yang diucapkan oleh hambaKu itu?" Mereka menjawab: "Ia memuji Engkau dan mengucapkan kalimat istirja' -yakni kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". Kemudian Allah Ta'ala berfirman: "Dirikanlah untuk hambaKu itu sebuah rumah dalam syurga dan namakanlah rumah itu dengan sebutan Baitulhamdi -yakni Rumah Pujian-." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

 

920. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah Ta'ala berfirman: "Tiada suatu balasanpun di sisiku yang diperuntukkan pada hambaKu yang mu'min, jikalau Aku mencabut nyawa kekasihnya dari golongan ahli di dunia, kemudian ia mengharapkan keridhaanKu -dengan meninggalnya kekasihnya tadi-, melainkan balasannya itu adalah syurga." (Riwayat Bukhari) Kekasih ialah seperti anak, istri dan lain-lain yang dekat hubungannya sewaktu didunia.

 

921. Dari Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhuma, katanya: "Salah seorang dari puteri-puteri Nabi s.a.w. mengutus seseorang kepada beliau s.a.w. untuk memanggilnya dan memberitahukan padanya bahwa salah seorang anaknya -yakni anak puteri Nabi s.a.w. itu-, lelaki atau perempuan -yang meriwayatkan hadits ini ragu-ragu, apakah anak itu lelaki atau perempuan- sedang berada dalam keadaan akan meninggal dunia. Puteri Nabi s.a.w. yang memanggil itu ialah Zainab, sedang yang sakit namanya Umamah. Nabi s.a.w. lalu bersabda kepada utusan puterinya itu: "Kembalilah dulu ke tempat puteriku itu dan beritahukanlah padanya bahwasanya bagi Allah adalah apa-apa yang diambil, bagiNya apa-apa yang diberikan dan segala sesuatu menurut ajal yang ditentukan di sisiNya. Maka dari itu perintahkanlah ia supaya bersabar saja dan supaya mengharapkan keridhaan Allah." Selanjutnya disebutkan hadits ini sampai selengkapnya. (Muttafaq 'alaih)


Sumber:


Home | TrendMuslim.com