.:: HaditsWeb7.0 ::.


 

Bab 130. Impian Dan Apa-apa Yang Berhubungan Dengan Impian Itu

 

 

Allah Ta'ala berfirman: "Dan setengah daripada tanda-tanda -kekuasaan Tuhan- ialah tidurmu semua diwaktu malam dan siang." (ar-Rum: 23)

 

835. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak ada yang tertinggal dari kenubuwatan itu melainkan hal-hal yang menggembirakan." Para sahabat sama bertanya: "Apakah hal-hal yang menggembirakan itu?" Beliau s.a.w. bersabda: "Yaitu impian yang baik." (Riwayat Bukhari)

 

836. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Jikalau zaman sudah dekat -yakni dekat dengan datangnya hari kiamat-, maka impian seorang mu'min itu hampir tidak dusta dan impian seorang mu'min itu adalah sebagian dari empat puluh enam bagian dari kenubuwatan." (Muttafaq 'alaih) Dalam riwayat lain disebutkan: "Nabi s.a.w. bersabda: "Dan yang terbenar diantara engkau semua tentang impiannya ialah yang terbenar pembicaraannya."

 

837. Dari Abu Hurairah r.a. puta, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang bermimpi melihat saya dalam tidur, maka ia akan melihat saya di waktu jaga -yakni melek, dan ini ditakwilkan sewaktu di akhirat nanti- atau seolah-olah ia melihat saya di waktu jaga, karena syaitan itu tidak dapat menyerupakan dirinya dengan diriku," maksudnya tidak dapat menjelmakan diri seperti beliau s.a.w. itu." (Muttafaq 'alaih)

 

838. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: "Jikalau seorang diantara engkau semua bermimpi melihat sesuatu impian yang ia menyukainya maka sesungguhnya impian itu adalah dari Allah Ta'ala. Maka dari itu hendaklah mengucapkan pujian kepada Allah atas impian tadi -yakni membaca Alhamdulillah- dan hendaklah memberitahukan impiannya itu -pada orang lain-." Dalam suatu riwayat lain disebutkan: "Maka janganlah memberitahukan impiannya tersebut, kecuali kepada orang yang ia mencintainya. Tetapi jikalau bermimpi melihat impian yang selain demikian -yaitu impian buruk dan tidak disukai-, maka sesungguhnya impian tadi adalah dari syaitan. Oleh karena itu hendaklah ia memohonkan perlindungan kepada Allah daripada keburukannya -yakni membaca ta'awwudz- dan janganlah menyebut-nyebutkannya kepada orang lain, sebab sesungguhnya impian sedemikian itu tidak akan membahayakan dirinya." (Muttafaq 'alaih)

 

839. Dari Abu Qatadah r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda: "Impian yang baik, dan dalam riwayat lain disebutkan: Impian yang indah itu berasal dari Allah dan impian buruk itu dari syaitan. Maka barangsiapa yang melihat sesuatu impian yang ia tidak menyukainya, hendaklah ia meniup di sebelah kirinya sebanyak tiga kali dan hendaklah pula memohonkan perlindungan kepada Allah dari syaitan -yakni membaca ta'awwudz yaitu A'udzu billahi minasy syaithanir rajim-, karena sesungguhnya impian buruk tadi tidak akan membahayakan dirinya." 'Annaftsu artinya tiupan yang dilakukan tiga kali kesebelah kiri, yakni suatu hembusan nafas yang halus tanpa mengeluarkan ludah.

 

840. Dari Jabir r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: "Jikalau seorang diantara engkau semua melihat impian yang ia tidak menyukainya, maka hendaklah ia berludah di sebelah kirinya tiga kali dan hendaklah pula ia memohonkan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan -yakni membaca ta'awwudz- sebanyak tiga kali dan sebaiknya ia beralih dari sebelah yang ia tidur di atasnya tadi -yakni berpindah posisi-." (Riwayat Muslim)

 

841. Dari Abul Asqa' yaitu Watsilah bin al-Asqa' r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya termasuk sebesar-besar kedustaan ialah apabila seorang itu mengaku-aku pada orang yang selain ayahnya -yakni bukan keturunan si Fulan, tetapi ia mengatakan keturunannya-, atau orang yang mengatakan ia bermimpi melihat sesuatu yang sebenarnya tidak memimpikannya atau ia mengucapkan atas Rasulullah s.a.w. sesuatu yang tidak disabdakan olehnya -yakni bukan sabda Nabi s.a.w. dikatakan sabdanya-." (Riwayat Bukhari)

 

Keterangan:

Dalam hadits diatas disebutkan bahwa diantara sebesar-besar kedustaan ialah:

  1. Mengaku kepada seorang yang bukan ayahnya sebagai ayahnya sendiri adalah termasuk dusta terbesar, karena membuat-buat sesuatu atas nama Allah Ta'ala, seolah-olah orang yang berdusta itu mengatakan: "Allah membuat aku dari mani si Fulan itu," padahal sebenarnya bukan orang yang ditunjuk itu yang menyebabkan kejadiannya. Orang yang berbuat demikian itu ada kalanya ingin dihormati atau diagung-agungkan sebab yang diakui sebagai ayahnya adalah seorang pembesar yang berkedudukan tinggi atau orang hartawan, ada kalanya pula karena ingin dianggap keturunan ningrat karena yang diakui sebagai ayahnya adalah seorang bangsawan dan ada kalanya sebab yang lain-lain. Tetapi pada pokoknya disebabkan oleh kesombongan dan menginginkan penghormatan untuk dirinya.

  2. Mengatakan bermimpi apa yang tidak dimimpikan, inipun dusta yang amat besar. Adapun sebabnya adalah sebagaimana yang diterangkan sebagai penjelasan yang tertera di bawah ini. Sehubungan dengan dusta dalam hal impian ini, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas r.a., yaitu: "Barangsiapa yang mengaku bermimpi dengan sesuatu impian yang sebenarnya tidak dilihatnya, maka -pada hari kiamat nanti- akan dipaksa duduk diantara dua butir biji gandum, tetapi ia tidak mungkin dapat melakukannya."

  3. Mengucapkan sesuatu dusta atas nama Nabi Muhammad s.a.w., maksudnya sesuatu yang bukan sabda Nabi s.a.w. dikatakan sabdanya, atau sesuatu yang disabdakan oleh beliau s.a.w. itu haram, tetapi dikatakan halal dan demikian pula sebaliknya. Orang semacam itu diancam akan dilemparkan dalam neraka dan diperintahkan mencari tempat kediamannya dalam neraka itu, sebagai tempat duduknya. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan lain-lain dari Anas r.a. menyebutkan: "Barangsiapa yang berdusta atas namaku (Nabi Muhammad) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya atau tempat kediamannya didalam neraka."


Sumber:


Home | TrendMuslim.com