.:: HaditsWeb7.0 ::.


 

Bab 91. Menasihati Dan Berlaku Sedang Dalam Memberikan Nasihat

 

 

Allah Ta'ala berfirman: "Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan menggunakan kebijaksanaan dan nasihat yang baik." (an-Nahl: 125)

 

697. Dari Abu Wail yaitu Syaqiq bin Salamah, katanya: "Ibnu Mas'ud r.a. itu memberikan peringatan -nasihat yang berisikan keagamaan- kepada kita sekali setiap hari Kamis. Kemudian ada seseorang yang berkata padanya: "Hai Abu Abdir Rahman, sesungguhnya saya akan lebih senang lagi, jikalau engkau memberikan peringatan kepada kita itu setiap hari." Ibnu Mas'ud menjawab: "Sebenarnya saja yang mencegah saya berbuat demikian itu -yakni tidak memberikan peringatan setiap hari- ialah karena saya tidak senang kalau saya akan menyebabkan bosannya engkau semua. Sesungguhnya saya menjaga waktu -yakni tidak setiap hari- memberikan nasihat kepadamu semua ini sebagaimana keadaannya Rasulullah s.a.w. yang juga menjaga waktu memberikan nasihat kepada kita dahulu, karena takut timbulnya kebosanan pada kita." (Muttafaq 'alaih)

 

698. Dari Abul Yaqdzhan yaitu Ammar bin Yasir radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya panjangnya seorang dalam bershalat dan pendeknya dalam berkhutbah adalah suatu tanda kepandaian orang itu dalam urusan keagamaan. Oleh sebab itu, maka panjangkanlah shalat dan pendekkanlah berkhutbah." (Riwayat Muslim)

 

699. Dari Mu'awiyah bin al-Hakam as-Sulami r.a., katanya: "Pada suatu ketika saya shalat bersama Rasulullah s.a.w., tiba-tiba ada seorang dari kaum yang berjamaah itu bersin, lalu saya mengucapkan: "Yarhamukallah." Kaum -yakni orang-orang itu- sama melemparkan pandangan mereka padaku, lalu saya mengucapkan: "Aduh bencana ibuku, mengapa engkau semua melihat padaku?" Orang-orang itu selalu memukulkan tangan-tangan mereka pada paha-paha mereka. Setelah saya mengerti bahwa mereka itu menyuruh saya supaya berdiam lalu sayapun berdiamlah. Selanjutnya setelah Rasulullah s.a.w. selesai mengerjakan shalat, maka aduhai ayah dan ibuku, belum pernah saya melihat seorang gurupun sebelum saat itu dan bahkan sesudah itu sekalipun yang lebih bagus cara mengajarnya daripada beliau s.a.w. tersebut. Demi Allah, beliau tidak membentak-bentak padaku, tidak pula memukulku dan tidak pula mencaci maki padaku. Beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya shalat ini tidak patut di waktu mengerjakannya itu mengucapkan sesuatu dari ucapan manusia. Sesungguhnya shalat itu adalah ucapan tasbih (Subhanallah), ucapan takbir (Allahu Akbar) serta bacaan al-Quran" atau seperti itu apa yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. Saya lalu berkata: "Ya Rasulullah, saya ini baru saja keluar dari masa jahiliyah, dan Allah sungguh-sungguh telah mendatangkan Agama Islam ini. Sesungguhnya diantara kita semua ini ada beberapa orang yang suka mendatangi ahli ramal -perdukunan-." Beliau s.a.w. bersabda: "Jangan engkau mendatangi mereka." Saya berkata lagi: "Di antara kita ada pula orang-orang yang merasa akan mendapat nasib buruk." Beliau s.a.w. bersabda: "Hal itu adalah sesuatu yang mereka dapatkan dalam hati mereka sendiri, maka tentulah tidak dapat menghalang-halangi mereka," yakni hal itu tidak akan memberikan bekas apapun kepada mereka, baik kemanfaatan atau kemadharatan. (Riwayat Muslim)

 

700. Dari al-'Irbadh bin Sariyah r.a., katanya: "Kita semua diberi nasihat oleh Rasulullah s.a.w. berupa suatu nasihat yang karena mendengarnya itu semua hati menjadi takut dan semua mata dapat mengalirkan air mata." Lalu ia menyebutkan hadits itu dan sudah lampau keterangan selengkapnya dalam bab "Perintah memelihara sunnah," dan sudah kami sebutkan pula bahwasanya Imam Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.


Sumber:


Home | TrendMuslim.com